GLOSARIUM SABTU, 15-2-2025



IRVAN NASIR
Pemerhati Sosial

Kumis Harimau dan Ilusi Kewibawaan

Pernah dengar mitos soal kumis harimau? Konon, siapa pun yang memilikinya akan mendapatkan wibawa dan keberanian layaknya sang raja rimba.


Suatu siang yang lengang, saya sedang menikmati kopi sambil menunggu teman. Tiba-tiba, seorang pria paruh baya menghampiri saya dengan tatapan penuh rahasia.


"Pak, saya punya barang bagus… kumis harimau dari Kerinci," bisiknya.


Tanpa menunggu reaksi saya, ia mengeluarkan benda kecil mirip pipet dengan ujung sedikit runcing.


"Ini kumis harimau asli. Bisa menambah wibawa," lanjutnya penuh keyakinan.


Saya hanya tersenyum dan menggeleng. Ia pun berlalu, mungkin mencari pembeli lain yang lebih percaya pada mitos.



Simbol, Mitos, dan Realitas


Di banyak budaya Asia, harimau adalah lambang keberanian dan kewibawaan. Bahkan, hanya dengan menyebut namanya saja, sudah bisa muncul rasa gentar. Tak heran jika seorang pemimpin yang berani dan karismatik sering disebut sebagai Macan Asia.


Namun, kepemimpinan bukan sekadar tampilan luar. Dalam politik, bisnis, dan organisasi, kita sering melihat pemimpin yang kelihatan berwibawa di luar, tapi rapuh di dalam. Ada yang gemar melempar tanggung jawab, ada yang sibuk membangun citra ketimbang bekerja, dan ada juga yang keputusannya plin-plan—seperti bubur ayam yang kebanyakan kuah.


Kalau mengikuti logika mitos, bisa jadi mereka ini lupa pakai kumis harimau! Tapi mari realistis: kewibawaan tidak bisa didapat hanya dengan jimat atau aksesori. Kepemimpinan sejati adalah soal nyali, ketegasan, dan integritas.



Harimau Berkumis vs. Harimau Bertaring


Menariknya, sejarah mencatat banyak pemimpin besar yang berkumis. Sebut saja Hitler, Stalin, hingga Salvador Dalí—meski yang terakhir lebih terkenal karena kumisnya ketimbang kepemimpinannya. Tapi di sisi lain, banyak juga pemimpin hebat tanpa kumis, seperti Soekarno dan Suharto. Mereka membuktikan bahwa kepemimpinan bukan soal gaya, melainkan karakter dan ketegasan dalam mengambil keputusan.


Harimau, meskipun tua dan pincang, tetaplah Raja Rimba. Tatapannya saja bisa membuat kelinci gemetar. Tapi begitu ia berkawan dengan tikus, maka ia tak lebih dari harimau sirkus—keberaniannya hanya sebatas pertunjukan.


Kata seorang teman, "Jangan mengaku pandai besi kalau masih berguru kepada tukang kayu."


Maka, pertanyaannya: apakah harimau tua itu masih bertaring, atau sudah dicabut kumisnya?


Sehingga cuma bisa mengeong.